Mengenalmu adalah hal terindah, bersanding denganmu adalah kenyamanan yang tak terkira, menjadi istrimu adalah anugrah yang tak ternilai.
Suamiku..........maafkan aku yang selalu membuat hatimu sedih, membuat kalbumu pilu, bahkan meneteskan air matamu.
Ku hanya bisa nenuangkan rasaku lewat tarian jariku, aku tak tau kenapa aku tak kuasa tuk mengungkapnya dengan kata meski pun kau memaksaku sekalipun ku tak bisa.
Begitu bahagianya diriku menjadi istrimu dari detik pertama kau ucap ijab sampai detik ini bahkan sampai kapanpun aku tetap mencintaimu dan dirimu tumpuan hidupku.
Aku kan ikut kemana dikau membawaku.
Suamiku........
Di kontrakan kecil kita berkumpul bertiga, disini aku mencoba bertahan dengan suasana yang tak selaras dengan rasaku, entah mengapa,,,,,,,
Sayang,,,,,,,,,
Maafkan aku yang telah mendiamkan dirimu, bukan karena apa aku cuma ingin menahan emosi yang tersirat karena rasa yang tak di mengerti dan tak mampu tersampaikan.
Aku berharap kau fahami bahasa tubuhku karena dia yang kan mengatakan suasana hatiku.
Pergi pagi pulang malam kau tinggalkan ku karena tanggung jawab dan kesibukanmu
ibu mertua yang selalu menceramahiku tentang apa saja yang terbesit dalam benaknya, ku coba untuk mengikuti dan memahami yang di mau meski terkadang berat dihati.
Aku tau dan sadar perbedaan adat diantara kita begitu berat untuk di jalani, namun cintamu yang menguatkan ku.
Aku memang jauh berbeda dengan seseorang yang pernah mengisi hatimu dulu dan begitu dekat dengan keluargamu yang mampu memberikan apapun yang bisa membahagiakan mereka terutama ibumu jauh berbeda dengan ku, rasanya tubuhku tak bertulang jika ibu membicarakan itu namun aku tak mau mengganggu kenyamanan hatinya dalam menikmati ceritanya hanya bertahan memendam rasa yang paling dalam. Sesampaiku disini karena mu, karena pengabdianku padamu.
Ku tak tau kemana ku berkeluh kesah selain padamu. Hari-hari ku yang tak pernah beda bagai lembaran-lembaran usang tiada warna.
Harapanku dikau memberikan hembusan angin tuk sedikit menghibur hatiku karena aku jenuh dengan suasana itu. Saat sabtu menjeleng tersirat setitik harapan kau akan mengajakku keluar menghilangkan jenuh. Ku tunggu minggu pertama lewat aja minggu kedua gak ada minggu ketiga pun tiada beda hatiku semakin ricuh tak menentu namun aku sungkan bilang padamu karena kau pernah bilang lebih suka menggunakan liburmu untuk tidur dan istirahat di rumah, ku hanya bisa terdiam tak mau mengganggu ketenanganmu yang lelah seminggu bekerja.
Biar ku pendam rasa ini semampuku sampai kau mengerti akan bahasa tubuh dan diamku.
Sekuat-kuatnya hatiku tak sekuat dirimu, ku hanya seorang wanita yang tercipta dari patahan tulang rusuk pria.
Suamiku sayang.........
maafkan atas kakuranganku selama menjadi istrimu yang tak bisa memberikan yang terbaik untukmu, aku tetap mencintaimu dan sangat berharap dirimu ayah dari anak-anak kita.
Aku tak pernah menyalahkanmu,,,,,,mungkin ini semua cobaan rumah tangga kita dan takdir hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar